10 tahun INDEPENDENT NETWORK INDONESIA

10 TAHUN INDEPENDENT NETWORK INDONESIA

PERGERAKKAN TANPA HENTI

Sebagai event management & program consultant, bukan semata melakukan pergerakan showbiz di berbagai kota di Tanah air tapi berupaya kuat untuk meluaskan jaringan, membuka kesempatan, menyemai ide, menyebar kreativitas bahkan menjadi tempat menimba ilmu! Semua dilakoni demi satu Indonesia yang independen.

Kini setelah 10 tahun eksis dan memiliki 4 pintu kaki usaha baru, pergerakan apalagi yang akan bergulir?

Berawal dari pengalaman keterlibatan kerja di berbagai penyelenggaraan termasuk bergabung di DKSB pimpinan Almarhum Harry Roesli sejak tahun 1993, hingga pada Tahun 1999 Reza Pamungkas mendirikan Independent Network Indonesia (PT Independent Satu Indonesia). Pemikiran membentuk wadah itu didasari atas kebutuhan akan terciptanya lebih banyak kesempatan bagi kreator. Sekitar dua tahun, Reza membantu mengelola program sejumlah perusahaan secara personal. Namun seiring waktu, volume kerja yang harus ditanganinya semakin bertambah, langkahnya makin mantap ketika menemukan lebih banyak tim solid yang siap melakukan pergerakan bersama.

Azas kebutuhan juga yang kemudian melahirkan Inmusic Indonesia, Indonesian Music Directory, In Art & Design, dan Frontliners Indonesia. Setelah sekitar Sembilan tahun melakoni bisnis entertainment sebagai program konsultan, manajemen komunikasi, manajemen konser dan pertunjukan, manajemen event & ekshibisi , dan manajemen produksi, Independent Network Indonesia pada tahun 2008 lalu menciptakan 4 “ruang khusus” itu. “Ruang khusus adalah kesatuan, pintu-pintunya tersambung satu sama lain di dalam “rumah” Independent,” jelas Reza Pamungkas, Project Director sekaligus owner dari Independent Network Indonesia.”Jadi untuk masuk ke rumah Independent, bisa melalui pintu utama, atau bisa juga ke pintu-pintu ruang khusus tersebut,” tambah Reza.


INMUSIC INDONESIA, BUKAN LABEL SEMATA

Inmusic Indonesia, merupakan ruang untuk memberi kesempatan kepada musisi dan berbagai pihak yang terlibat di kancah music untuk dapat merealisasikan karya mereka dalam bentuk recording maupun pertunjukan. Merupakan ruang dengan banyak kesempatan untuk berinteraksi, beraktivitas dan mengakomodir kreativitas masyarakat muda yang terus berproses menghasilkan karya-karya dalam dunia musik dan pertunjukan, bergerak terus melengkapi apa yang sudah ada dalam industri musik di Indonesia. Sebuah ruang yang bukan hanya recording company atau label, tidak bicara major label maupun indie label namun lebih bertujuan menjadi ruang pergerakan musisi, media, outlet hingga brand, demi menciptakan “gairah” lebih pada industri musik di Indonesia.

Seiring dengan berdirinya Inmusic Indonesia, Pada akhir 2008 merilis 2 produk pertamanya; album dari solois bernama NIKO dan album band bernama MOZZI dalam format compact disc. Dengan mengembangkan networking Independent Network Indonesia yang sudah terjalin di berbagai kota, selama ini, CD Album NIKO dan Mozzi, didistribusikan langsung oleh Inmusic Indonesia ke outlet-outlet music store jaringan major, sebut saja di Duta Suara, Aquarius, Bulletin, Indomusic, Duta Musik, Musik Plus, M Studio, Tropic dan sebagainya, melingkupi Sumatera, Jawa, Bali, Makasar, Samarinda dan Menado.

Selain jaringan major, jaringan lainnya seperti distributor outlet (distro) dan radio-radio di berbagai kota, dijalin kerjasama direct selling, untuk menjajakan kedua produk tersebut. Hingga Desember ini, hampir seluruh kota dan kabupaten termasuk di Jakarta, Jawa Barat, Yogya, Jawa Tengah dan Jawa Timur, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi tengah dirasuki. Dan jaringan ini akan terus bergerak ke pulau-pulau lain di Indonesia sesuai dengan tujuan awalnya yakni membangun networking ke seluruh Indonesia.

Ihwal penggerakkan jaringan ini, Ghea Ewangga –Head of Network Departement Independent Network Indonesia. menggambarkan, “kita menggunakan metode lingkar labirin, bergerak dari lingkar kecil terus melingkar ke lingkar yang lebih besar.” Dengan metode itu, diharapkan proses penetrasi berjalan efektif dan signifikan, karena ketika lingkarannya sudah terbentuk, bukan tidak mungkin akan bergerak melingkar sendiri, dan itu terbukti. “Baru-baru ini kita dapat kabar, ada pembeli yang mengaku mendapatkan CD Mozzi di sebuah toko kaset di Merauke,“ lanjut Ghea sumringah.

“Pergerakan membangun jaringan ini juga menembus 235 radio yang tersebar di berbagai kota di Indonesia,” tambah Reza.


INDONESIAN MUSIC DIRECTORY, ETALASE MUSIK INDONESIA

Masih berkenaan dengan ruang kesempatan kepada musisi dan berbagai pihak yang terlibat di kancah music Indonesia, Independent Network Indonesia menggagas dan mengelola mobile directory yang memuat profile musisi dan grup band Indonesia dari berbagai genre musik. Dilengkapi dengan kontak manajemen dari musisi dan grup band tersebut, dengan begitu akan memudahkan para pengguna jika membutuhkan band dan musisi tersebut. “Bisa dibilang, Indonesian Music Directory adalah etalase musisi dan band Indonesia, sekaligus ruang interaksi dan apresiasi,” ungkap Reza Pamungkas.

Indonesian Music Directory dapat diakses dengan men-download dari ponsel ke alamat : http://wap.technomedia.mobi/inmusic.

Lebih jauh mengenai Indonesian Music Directory ini, Ryan LH—Head of Communication Departement Independent Network Indonesia menjelaskan, “Tidak ada biaya bulanan berlangganan dan biaya apapun, alias gratis. Hanya kena biaya akses GPRS sesuai tarif yang berlaku dari operator.” Setelah di download, data Indonesian Music Directory akan tersimpan di ponsel, jadi ketika membuka lagi, tidak perlu online dan praktis sekali. Selain directory, Indonesian Music Directory juga menyajikan berita dan informasi seputar musik dan perhelatan di tanah air.

Lantas bagaimana jika ada band atau musisi yang ingin ditampilkan? “Tidak ada biaya yang dikenakan, cukup mengirim profile yang memuat foto band dan nomor kontak manajemen ke email : inmusicindonesia@yahoo.com,“ jelas Ryan.


IN ART & DESIGN, DARI IDE HINGGA IMPLEMENTASI.

Ruang khusus ketiga besutan Independent adalah In Art & Design yang lebih fokus pada proses pembuatan design konstruksi dan elemen estetis, berusaha mengakomodir kebutuhan dari brand untuk dapat menampilkan image serta identitasnya sebaik mungkin mulai dari konsultansi, perancangan, produksi hingga pengelolaan atau maintenance dari konstruksi dan elemen estetis brand tersebut dalam sebuah event, dengan tujuan untuk mendukung aktivitas promosi dari brand yang bersangkutan. Produk yang dapat disediakan oleh In Art & Design antara lain : Exhibition Booth (Indoor & Outdoor), Aesthetic Elements, Show & Concert Stage (Indoor & Outdoor) serta Games & Interactive Booth.

“Design konstruksi dan elemen estetis merupakan salah satu dari sekian banyak hal penting yang menjadi media dimana identitas dan image dari sebuah brand ditampilkan,” ungkap Angga Elgana—Head of Creative Departement Independent Network Indonesia, perihal aspek-aspek yang membuat garapan In Art & Design akhirnya bisa dipertanggung-jawabkan secara estetik, fungsi dan teknisnya. “Panggung misalnya, sebenarnya banyak orang yang bisa membuat, yang membedakan adalah kemasannya. Misalnya, riging (panggung) harus dengan konstruksi yang baik, perlu diketahui pula beban yang bisa tampil di sana, konstruksi panggung, dan keamanannya,” lanjut Rinaldy Prasetiyo – Head of Production Departement Independent Network Indonesia. “Disiplin arsitektur saya terpakai untuk ini,” tambah Reza yang mendapat gelar insinyur dari Arsitek ITENAS Bandung.


FRONTLINERS INDONESIA, SAFETY FIRST.

Faktor utama dari sebuah penyelenggaraan adalah kenyamanan dan keamanan. Independent Network Indonesia, kesohor sebagai penyelenggara yang begitu detail dan sangat memperhatikan keamanan dan kenyamanan audience. “Di lapangan, audience adalah tamu kita yang harus dijaga kenyamanan dan keselamatannya,” tegas Reza. Berdasar pengalaman menggelar perhelatan di berbagai kota dari Sumatera hingga Merauke, Independent Network Indonesia kemudian membentuk “wadah” bernama frontliners Indonesia yang bergerak di sektor pengamanan pertunjukkan.

“Awalnya ketika kita melakukan tour, kita seringkali harus membekali lagi internal security yang ada di kota-kota tersebut,” ucap Reza. Pembekalan yang dimaksud menyangkut detail mekanisme dan orientasi yang harus dipahami bersama. “Misalnya bagaimana mendeteksi penonton yang berpotensi menjadi korban atau berbuat onar, meng-evakuasi penonton hingga pengamanan pengisi acara dan yang punya hajatan,” sambung Reza. Frontliner Indonesia dibekali kemampuan untuk mendeteksi, mengendalikan hingga audience bisa nyaman menikmati perhelatan.

“Ini juga berbicara mengenai kesempatan. Kebetulan banyak rekan-rekan yang memiliki potensi dan ingin punya ruang,” terang Reza yang kerapkali terjun langsung memberi komando di lapangan. Menurut Reza, sampai saat ini sudah ada 100 orang yang “merapatkan” diri dalam ruang Frontliners Indonesia ini.


DARI MEMBUKA KESEMPATAN HINGGA TEMPAT MENIMBA ILMU

Dengan dasar membuka kesempatan, bukan tidak mungkin jika kedepannya, Independent Network Indonesia akan menggulirkan ruang khusus baru lainnya. Hal itu diakui oleh Reza, “Karena kita bergerak di bidang networking, tentu saja kesempatan-kesempatan itu akan tercipta dengan sendirinya, sekaligus membentuk ruang-ruang baru.”

Ruang dan kesempatan itu pula yang kemudian, membuat Independent menjadi tempat untuk menimba ilmu, bahkan mungkin tempat mencuri ilmu! Menanggapi ini, Reza tertawa lebar, “Independent tiruan nih maksudnya? Ya hati-hati aja dengan yang palsu!, hwahaha…” Reza terbahak. “Kalau ada yang mencuri ilmu, belum tentu juga berhasil mendapatkan spirit. Kita juga terus bergerak, jadi kalau ada yang mencuri ilmu, ilmu kita di level mana? Karena mungkin kita sudah bergerak ke level selanjutnya,” seru Reza. “Alhamdulillah kalau kita akhirnya bisa memotivasi orang untuk membuka kesempatan lainnya dimanapun itu”

Yang pasti, di tahun 2009 ini yang berarti sudah 10 Tahun Independent Network Indonesia berkiprah di dunia entertainment, sinambung dengan pencanangan tahun 2009 sebagai tahun industri kreatif di Indonesia, yang dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Independent sudah menyiapkan 9 program yang terkait dengan menumbuh kembangkan Industri Kreatif,” terang Ryan. Program Independent di tahun 2009 yang terfokus pada pergerakan industri kreatif, tambah Reza, karena Independent berada dalam lingkar tersebut, “Masih dalam kontek membuka kesempatan, akan tercipta banyak kesempatan dan ruang baru ke depannya yang mendorong pertumbuhan industri kreatif di Indonesia. Inilah cara kami sebagai team Independent untuk membangun Indonesia,” tegas Reza menutup perbincangan.

~ by independentnetworkindonesia on February 13, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: