from Bandung with EO

Senin, 08 Oktober 2007
Reza Pamungkas: From Bandung with EO

Peruntungan bisnis sering datang tak jauh dari pengalaman kerja seseorang. Itu pula yang terjadi pada Reza Pamungkas, wirausaha muda dari Bandung, pemilik perusahaan event organizer (EO), Independent Network Indonesia. Sebelum menjalankan bisnis EO sendiri, Reza punya pengalaman kerja di beberapa perusahaan EO, termasuk pernah diajak Harry Roesli (almarhum) menciptakan beberapa event. Setelah sekitar dua tahun membantu sejumlah perusahaan mengelola event atas nama sendiri dan sukses, Reza kemudian berpikiran melembagakan bisnisnya itu. Apalagi, volume kerja yang ditanganinya makin banyak, terlebih juga telah menemukan tim solid yang siap diajak berkembang.

Tahun 1999 Reza pun memutuskan mendirikan Independent Network Indonesia (INDI). Kata “independent” ia pakai untuk mengangkat personality anggota timnya agar benar-benar independen, sementara kata “Indonesia” dipilih karena ingin menancapkan kaki dan berjaya di negeri sendiri. Jumlah personel ketika memulai hanya lima orang. Reza teringat, ketika awal mendirikan INDI, modalnya hanya satu unit notebook, ponsel, mobil Mercy 1974, dan mesin faks. Tanpa modal uang sama sekali. Selain itu, modalnya adalah nekat dan serius, serta jaringan yang dimiliki karena pernah disuruh mengelola event oleh beberapa perusahaan.

Dan memang betul, dari rekanan-rekanan lamanya itulah, INDI mulai mendapatkan pekerjaan, khususnya di Jakarta. Kebanyakan klien langsungnya (head to head) adalah multinasional. Problem awalnya ialah soal koordinasi karena basisnya di Bandung, sementara banyak kliennya di Jakarta. Apalagi, waktu itu belum ada tol Cipularang. Tak mengherankan, kalimat awal yang meluncur dari calon klien adalah, “Bisa nggak kita koordinasi, kamu kan di Bandung?” ucap Reza menirukan kesangsian klien-kliennya. Menurut pria kelahiran 11 September 1974 ini, itu merupakan tahapan paling berat karena proses pembuktiannya mensyaratkannya harus datang ketika ditelepon untuk meeting di Jakarta. Ia mencontohkan, ia biasa pukul 10.00 ditelepon agar segera meeting di Jakarta pada pukul 14.00 dengan kondisi tanpa jalan tol.

Reza teringat, momentum yang membuat INDI melesat adalah ketika berhasil menangani event MTV Lipton Band Blaze dari Unilever tahun 2003. Acara itu sukses tanpa persoalan sedikit pun. Waktu itu konsepnya tur di tiga kota (kurang lebih 4-6 bulan), dengan nilai proyek di atas Rp 1 miliar. Setelah sukses menangani Unilever, belasan brand berbondong masuk menjadi klien INDI. Toh, akhirnya INDI harus memilih agar bisa fokus. Event yang digarap INDI setelah itu antara lain Global TV Grand Launching, Niaga Card Visa Mini Party Bandung, Soft Opening Cihampelas Walk, Fix and Fast Bank Danamon (Jakarta dan Bandung), Close Up Acting & Writing, MTV Get Nongkrong (2005), dan MTV Rock The Vote.

Dalam setahun, semenjak 2003 itu, rata-rata INDI menangani lebih dari 10 klien dengan 20-30 event. Nilai proyeknya jika dihitung per event memang sangat fluktuatif, tergantung pada konsep dan kebutuhan klien. Terendah, per event sekitar Rp 500 juta dan yang tinggi bisa di atas Rp 1 miliar. Klien loyalnya, antara lain, Grup MNC, LA Lights, Medco, Telkomsel, Indosat, Honda, dan LG.

Menurut Reza, sebenarnya ia tak punya tools sukses tertentu. Ia hanya berusaha sedetail mungkin mengelola acara sehingga mengurangi risiko jeblok antara rencana dan implementasi. Ia akui, soal panggung sebenarnya banyak orang yang bisa membuat, tapi yang membedakan adalah kemasan. Misalnya, riging (panggung) harus dengan konstruksi yang baik, perlu diketahui pula beban yang bisa tampil di sana, konstruksi panggung, dan keamanannya. “Disiplin arsitektur saya terpakai untuk ini,” kata Reza seraya menjelaskan, hanya 10% kliennya yang di Bandung (90% Jakarta). Reza yang bermarkas di Jalan R.E. Martadinata, Bandung, lebih suka menyebut perusahaannya sebagai event management daripada event organizer, karena INDI lebih ingin diposisikan sebagai management branding dan ahli di promosi below the line. Produk yang ditawarkannya adalah program konsultan, manajemen komunikasi, manajemen konser dan pertunjukan, manajemen event & ekshibisi , dan manajemen produksi.

Sementara itu, Teges Prita Soraya, Head of Marketing & Communication Department RCTI juga mengakui perusahaannya merupakan pemakai jasa INDI, misalnya dalam perayaan ulang tahun RCTI beberapa waktu lalu. Menurutnya, untuk event yang melibatkan band-band indie, INDI memang cukup kuat. Prita mengakui pihaknya puas dengan apa yang dikerjakan dalam acara ulang tahun RCTI itu. “Cukup rapi, tertib, dan tidak ada keluhan sama sekali,” katanya. Menurutnya, memilih jasa EO tidak hanya berdasarkan harga, tapi juga spesifikasi dan kemampuan meng-image-kan ide dasar event.

Kini, Reza menuturkan, personel INDI dibagi dalam beberapa bagian. Bagian Ring 1 (ring inti), jumlah personelnya 10 orang (Reza berada di sini), Ring 2 berjumlah 30 orang, Ring 3 berjumlah 60 orang, dan Ring 4 berjumlah 100 orang. “Hanya Ring 1 yang dibayar per bulan, sementara ring berikutnya dibayar berdasarkan kontrak dan per event,” ujar Reza yang diwawancara saat mengadakan acara LA Light di Kafe Tenda Semanggi. Meskipun telah ahli mengadakan event, ia mengaku paling sulit menangani event anak-anak. “Sistem keamanannya harus dobel, anak dan ibunya. Juga, lebih repot mengurus anak-anak dibanding orang dewasa.”

Jahja B. Sunaryo, pemerhati pemasaran dari Bandung, melihat bahwa meski INDI belum terlalu menonjol, di Bandung ada beberapa event yang pernah digarap, seperti Indiefest. ”Di Bandung, INDI tergolong EO yang oke. Kebanyakan EO di Bandung adalah kepanjangan tangan EO yang ada di Jakarta, karena pasar besar adanya di Jakarta dan kesepakatan pun berlangsung di ibu kota negara,” katanya. Jahja juga salut INI bisa menembus pasar Jakarta karena sangat sulit masuk ke area Ibu Kota. Hanya saja, menurut Jahja, INDI baru bisa dikatakan hebat kalau bisa ditunjuk sebagai anchor EO dan mendapat kontrak jangka panjang oleh beberapa perusahaan terkemuka. Jadi, masih harus diuji eksistensinya dalam persaingan antar-EO yang makin ketat ke depan.

Source : majalah SWA, oleh : Sudarmadi/Andry Mahyudi

Edit : Independent Network Indonesia

~ by independentnetworkindonesia on December 23, 2008.

2 Responses to “from Bandung with EO”

  1. siipp…salut buat kang reza and team…sukses trus, apa yg saya baca dsini dah jadi inspirasi tentang keberanian, konsistensi, fokus….sukses bt temen2 independent…., trakhir team ketemu saya di medan ya…pas menjelang event UNGU……cayooo!!!

  2. heheheheh…waaahhhh, kita sangat tersanjung nih..ternyata bisa jadi inspirasi buat temen2..mudah2-an kedepannya kita bisa berbuat yang lebih buat komuniti….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: